Rakatalenta.com, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) melakukan perombakan besar-besaran di jajaran Pemprov DKI Jakarta. Tidak tanggung-tanggung Jokowi mengganti 20 pejabat Eselon II sekaligus, pada Kamis (14/2) lalu.Dari ke-20 Pejabat Pemprov DKI yang digantikan ada beberapa posisi strategis yang dirombak Jokowi, dua di antaranya adalah pergantian Kepala Pekerjaan Umum (PU) Ery Basworo menjadi Kepala BPBD dan pergantian Wali kota Jakarta Selatan Anas Effendi menjadi Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah.
Entah apa kesalahan Anas Effendi di mata Jokowi, jabatan strategis yang diembannya sekitar dua tahunan ini harus rela ditinggalkannya. Dengan alasan formalitas, Jokowi mengaku jika Anas digeser karena ada kekosongan jabatan di bagian perpustakaan dan arsip daerah, bukan karena tidak sesuai dengan visi misi Jokowi-Ahok.
"Ya karena di perpustakaannya kosong. Memang di arsip itu kosong kok, gimana sih? Kan yang di arsip sudah pensiun," kata Jokowi usai melantik sejumlah pejabat Pemprov di Balai Kota Jakarta, Kamis (14/2).
Berikut 4 kisah Anas sebelum digeser dari Walikota Jaksel jadi Kepala Perpus:
1. Anas disebut sebagai Wali kota yang lincah
Meskipun mencopot jabatan Wali kota Jakarta Selatan Anas Effendi menjadi Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah. Gubernur DKI Jakarta Jokowi Dodo (Jokowi) menilai kinerja Anas dalam penguasaan dan penanganan permasalahan semasa menjawab Wali kota Jakarta Selatan sudah bagus.
"Sudah bagus kok. Pak wali kota lincah," terangnya.
Anas diganti bukan karena alasan tidak sigap bekerja. Dengan alasan formalitas, Jokowi mengaku jika Anas digeser karena ada kekosongan jabatan di bagian perpustakaan dan arsip daerah.
"Sudah bagus kok. Pak wali kota lincah," terangnya.
Anas diganti bukan karena alasan tidak sigap bekerja. Dengan alasan formalitas, Jokowi mengaku jika Anas digeser karena ada kekosongan jabatan di bagian perpustakaan dan arsip daerah.
2. Anas klaim telah jalankan instruksi Jokowi
Anas Effendi mengaku selama menjabat sebagai Wali kota Jakarta Selatan dirinya telah menjalankan instruksi Gubernur DKI Jakarta terdahulu maupun yang saat ini tengah menjabat. Dia mengatakan, bahwa jajarannya telah melaksanakan penertiban dan melaksanakan fungsi fasilitas umum (Fasum).
"Melaksanakan penertiban dan yang melaksanakan fungsi fasilitas umum," terang Anas Effendi.
Dia juga mengklaim, bahwa penertiban terhadap kaki lima yang menjajakan dagangannya di fasilitas umum juga tengah ditertibkan.
"Kita sudah melakukan pembersihan di tempat-tempat yang dicoret-coret, kaki lima, kita sudah jalankan sesuai dengan arahan bapak Gubernur," jelasnya.
Namun pada kenyataanya pernyataan Anas ini berbanding terbalik. Pasalnya di daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan, ratusan pedagang kaki lima masih menjajakan dagangan di atas trotoar dan juga badan jalan. Selain membuat kemacetan, akibat para pedagang baik buah maupun sayuran tersebut juga membuat banyaknya sampah yang menumpuk di sepanjang jalan dekat Polsek Pasar Minggu.
"Melaksanakan penertiban dan yang melaksanakan fungsi fasilitas umum," terang Anas Effendi.
Dia juga mengklaim, bahwa penertiban terhadap kaki lima yang menjajakan dagangannya di fasilitas umum juga tengah ditertibkan.
"Kita sudah melakukan pembersihan di tempat-tempat yang dicoret-coret, kaki lima, kita sudah jalankan sesuai dengan arahan bapak Gubernur," jelasnya.
Namun pada kenyataanya pernyataan Anas ini berbanding terbalik. Pasalnya di daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan, ratusan pedagang kaki lima masih menjajakan dagangan di atas trotoar dan juga badan jalan. Selain membuat kemacetan, akibat para pedagang baik buah maupun sayuran tersebut juga membuat banyaknya sampah yang menumpuk di sepanjang jalan dekat Polsek Pasar Minggu.
3. Anas pernah sebut jalur sepeda tidak efektif
Saat menjabat sebagai Wali kota Jakarta Selatan Anas Effendi pernah mengatakan, bahwa Jalur khusus sepeda sepanjang 1,5 Km yang terletak mulai dari Taman Ayodia hingga di Jalan Melawai Raya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan tidak efektif.
"Kita sudah membangun jalur sepeda, walaupun tidak efektif tapi kita sudah berusaha untuk membangun jalur tersebut," terang Anas Efendi.
Kendati hingga saat ini jalur khusus sepeda tersebut tidak efektif, Anas mengatakan bahwa setiap hari Selasa dan Kamis, jajaran Wali kota Jakarta Selatan sudah mengkampanyekan kepada masyarakat untuk bersama-sama mengayuh sepeda.
"Kita kampanyekan sepeda setiap selasa dan Kamis pagi di taman Ayodia setiap jam 07.00 WIB," jelasnya.
Saat ini, kondisi Jalur sepeda tersebut lebih banyak digunakan oleh kendaraan bermotor. Bahkan tidak jarang, jalur tersebut juga digunakan untuk jalan Metromini maupun Bajaj di kawasan Blok M Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
"Kita sudah membangun jalur sepeda, walaupun tidak efektif tapi kita sudah berusaha untuk membangun jalur tersebut," terang Anas Efendi.
Kendati hingga saat ini jalur khusus sepeda tersebut tidak efektif, Anas mengatakan bahwa setiap hari Selasa dan Kamis, jajaran Wali kota Jakarta Selatan sudah mengkampanyekan kepada masyarakat untuk bersama-sama mengayuh sepeda.
"Kita kampanyekan sepeda setiap selasa dan Kamis pagi di taman Ayodia setiap jam 07.00 WIB," jelasnya.
Saat ini, kondisi Jalur sepeda tersebut lebih banyak digunakan oleh kendaraan bermotor. Bahkan tidak jarang, jalur tersebut juga digunakan untuk jalan Metromini maupun Bajaj di kawasan Blok M Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
4. Jokowi pernah marah-marah di Kantor Wali kota Jaksel
Saat Jokowi mengunjungi Kantor Wali Kota Jakarta Selatan beberapa bulan lalu, Jokowi pernah berpesan kepada pejabat-pejabat di sana agar melakukan perubahan dalam melayani masyarakat. Jokowi ingin pegawai di lingkungan Jakarta Selatan lebih melayani rakyat lebih baik lagi.
"Di Petogogan (Kebayoran Lama), kalau banjir, saya duluan yang datang, enggak ada lurahnya, awas. Gampang, paling malam-malam ini ketemu senyum-senyum, tapi besoknya hilang," kata Jokowi di hadapan pejabat di lingkungan Pemkot Jakarta Selatan.
Mantan Wali kota Solo ini juga menegaskan, bahwa di masa kepemimpinanya saat ini harus ada perubahan yang signifikan.
"Jangan sampai eksklusif. Zaman sudah berubah," imbuh Jokowi.
Sumber: Merdeka.com
"Di Petogogan (Kebayoran Lama), kalau banjir, saya duluan yang datang, enggak ada lurahnya, awas. Gampang, paling malam-malam ini ketemu senyum-senyum, tapi besoknya hilang," kata Jokowi di hadapan pejabat di lingkungan Pemkot Jakarta Selatan.
Mantan Wali kota Solo ini juga menegaskan, bahwa di masa kepemimpinanya saat ini harus ada perubahan yang signifikan.
"Jangan sampai eksklusif. Zaman sudah berubah," imbuh Jokowi.
Sumber: Merdeka.com