(Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)
Menanggapi hal itu, Direktur SDM dan Umum RS Atma Jaya, Pluit, Yohanes Temaluru mengatakan bahwa dokter rumah sakit tidak pernah menyarankan tindakan operasi kepada mahasiswi semester IV itu.
"Dokter menyarankan agar dirawat intensit di ICU (intensive care unit). Tidak ada kata-kata saran operasi dari dokter ahli syaraf," kata Yohanes dalam perbincangan dengan Liputan6.com di Jakarta, Senin (11/2/2013) malam.
Saat kejadian, Annisa langsung dibawa ke Unit Gawat Darurat sesuai standar prosedur medis. Kemudian, dokter UGD berkonsultasi kepada ahli syaraf bahwa ada benturan keras di kepala Annisa. Setelah dibawa ke ICU, keluarga Annisa diminta mengurus administrasi pasien.
"Saat di administrasi itulah keluarga pasien diberi informasi soal biaya. Jadi bukan dokter. Di bagian Administrasi disampaikan untuk biaya ICU satu hari sekitar Rp 1 juta. Bila ada tindakan bisa Rp 2-2,5 juta. Untuk masuk ICU ada uang muka Rp 12 juta," jelas Yohanes. Menurut Yohanes, itu merupakan penjelasan standar petugas administrasi kepada semua pasien.
Yohanes menuturkan, saat itu tidak ada keluhan atau penyampaian resmi dari keluarga bahwa mereka tidak mampu membayar. Tetapi Yohanes akui bahwa keluarga sempat bertanya apakah uang biaya satu hari di ICU hanya Rp 500 ribu saja. "Petugas administrasi pun mengiyakan," kata dia. Tetapi belakangan keluarga Annisa justru membayar penuh Rp 1 juta.
Keluarga pasien, kata Yohanes, juga tidak bertanya tentang Kartu Jakarta Sehat. Kendati begitu, salah satu syarat KJS adalah Kartu Tanda Penduduk warga DKI. Sedangkan Annisa tidak punya KTP Jakarta, karena warga Sumatera Barat.
Yohanes membantah kritik DPR dari Fraksi Golkar Poempida Hidayatullah yang menilai RS Atma Jaya terlalu komersial ketimbang mendahului kepentingan sosial dan masyarakat. Menurut Yohanes, RS Atma Jaya sejak berdiri sejak 37 tahun lalu memiliki semangat dasar untuk membantu yang kurang mampu, tidak peduli siapapun.
"Rumah sakit kami itu 83-95 persen untuk pasien kurang mampu. Apalagi ini rumah sakit pendidikan karena kami punya Fakultas Kedokteran. Justru setiap tahunnya kami itu defisit, lebih banyak memberi daripada menerima," ujar Yohanes. (Ism
[sumber: Liputan6.com]